H. M. Hamzah Noor / Pemerhati Barito Putera (Ist)
Banjarmasin, Onenewskalsel – Laga kandang Barito Putera kontra Persiku Kudus yang dijadwalkan berlangsung di Stadion 17 Mei Banjarmasin, Senin (5/1/2026), justru memunculkan kegelisahan di kalangan suporter. Alih-alih menjadi pesta kembalinya sepak bola ke stadion kebanggaan urang banua, narasi “wajib menang” dinilai menempatkan Barito Mania dalam posisi serba dirugikan sebagai konsumen.
Ekspektasi tinggi yang dibebankan kepada tim Laskar Antasari disebut berpotensi berbalik menjadi tekanan berlebih, baik bagi pemain maupun pendukung yang telah lama menantikan laga kandang setelah hampir lima musim Stadion 17 Mei tak digunakan. Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat suporter hanya dijadikan pelengkap atmosfer, tanpa jaminan tontonan berkualitas.
Pemerhati Barito Putera, Hamzah Noor, menilai pertandingan ini seharusnya dimaknai sebagai momentum pembuktian kesiapan klub secara menyeluruh, bukan sekadar target tiga poin. Menurutnya, suporter telah “membayar mahal” kesabaran mereka selama bertahun-tahun.
“Barito Mania menunggu hampir lima musim untuk kembali ke Stadion 17 Mei. Mereka datang bukan hanya untuk menang, tapi ingin melihat permainan yang meyakinkan dan menghargai loyalitas suporter,” ujarnya.
Tekanan hasil instan juga dinilai berisiko menutup mata terhadap persoalan teknis di lapangan, termasuk kesiapan pemain, kualitas permainan, hingga manajemen pertandingan. Jika performa tim tidak sebanding dengan ekspektasi, kekecewaan suporter sebagai konsumen hiburan olahraga menjadi hal yang tak terhindarkan.
Optimisme terhadap Pelatih Kepala Stefano Cugurra atau Coach Teco pun dinilai perlu diimbangi dengan realitas kompetisi Liga 2 yang ketat. Rekam jejak prestasi di Liga 1 bersama Persija Jakarta dan Bali United dianggap belum cukup untuk menjamin Barito Putera langsung tampil dominan.
“Nama besar pelatih tidak otomatis menjamin hasil. Kalau permainan di lapangan tidak berkembang, yang dirugikan pertama kali adalah suporter yang datang dengan harapan besar,” kata Hamzah.
Sebagai sport mania, sebagian Barito Mania berharap manajemen dan tim pelatih lebih jujur dalam membangun ekspektasi publik. Kemenangan memang penting, namun pengalaman menonton yang layak, permainan atraktif, dan komitmen jangka panjang dinilai jauh lebih menghargai posisi suporter sebagai bagian utama ekosistem sepak bola.
Jika tekanan “wajib menang” kembali berujung hasil mengecewakan, Barito Putera berisiko kehilangan kepercayaan publiknya sendiri—harga paling mahal yang harus dibayar dalam dunia sepak bola modern.
Editor: Redaksi OneNews Kalsel
Sumber: Ahmad Fauzie






