BANJARMASIN, ONENEWSKALSEL – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat gerakan tanam serentak di lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) seluas 10.000 hektare yang tersebar di 19 provinsi, Kamis (9/4/2026). Langkah ini dilakukan sebagai strategi menghadapi potensi dampak perubahan iklim, khususnya El Nino, terhadap produksi pangan nasional.
Kegiatan tanam serentak tersebut dipusatkan di Kalimantan Selatan dan menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas produksi di tengah ancaman cuaca ekstrem.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan percepatan masa tanam merupakan langkah krusial untuk mencegah penurunan hasil produksi akibat perubahan iklim.


“Jika tanam terlambat, kita berisiko kehilangan produksi. Karena itu, tanam harus dilakukan secara serentak, masif, dan tepat waktu,” ujar Amran.
Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memperluas lahan pertanian produktif. Pada 2025, program ini dilaksanakan di 19 provinsi sebagai bagian dari penguatan fondasi swasembada pangan nasional.


Gerakan tanam serentak ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari jajaran Kementan, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, hingga petani. Sejumlah kepala daerah juga turut hadir sebagai bentuk dukungan terhadap percepatan tanam.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya pengawalan di lapangan untuk memastikan keberhasilan program.
“Penyuluh harus memastikan proses tanam berjalan tepat waktu dan sesuai rekomendasi. Ini bukan sekadar menanam, tetapi memastikan produksi benar-benar terjaga,” katanya.

Selain mendorong peningkatan produksi, Kementan juga memperkuat modernisasi sektor pertanian serta regenerasi petani melalui pelibatan generasi muda dalam program Brigade Pangan.
Dengan langkah tersebut, Kementan optimistis produksi pangan nasional tetap terjaga, bahkan berpotensi meningkat, di tengah tekanan perubahan iklim global yang semakin tidak menentu.








